BANYUWANGI – Bidikpos.Com // Ratusan sopir dump truck menggelar aksi penyampaian aspirasi di depan Polresta Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (11/8/2026). Mereka mendesak aktivitas tambang pasir kembali dibuka agar dapat bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga kembali.
Ada Sekitar Ratusan dump truck yang digunakan massa untuk memadati ruas jalan di sekitar Polresta Banyuwangi. Akibatnya, arus lalu lintas di kawasan tersebut mengalami kemacetan.
Dalam aksinya, para sopir menyampaikan sejumlah tuntutan.
Mereka meminta aktivitas tambang pasir dapat kembali berjalan sesuai ketentuan serta dalam penertiban pertambangan dilakukan secara adil, transparan, dan tidak tebang pilih.
Para sopir menilai penutupan aktivitas tambang berdampak langsung terhadap mata pencaharian mereka. Sebagian besar mengaku tidak memiliki pekerjaan lain dan menggantungkan penghasilan hidup dari jasa angkutan pasir.
Salah satu sopir, Ibnul, mengatakan dirinya hanya seorang buruh sopir yang mengandalkan penghasilan dari pekerjaan tersebut untuk menghidupi keluarga.
“Saya ini buruh sopir. Kalau tidak bisa bekerja, bagaimana saya memberi nafkah keluarga? Saya punya anak dan istri, anak saya masih sekolah. Cari pekerjaan lain juga susah. Tolong, Pak, kasih kami keadilan,” ujar Asnawi.
Menurutnya, para sopir tidak meminta untuk bekerja tanpa aturan. Mereka hanya meminta pemerintah dan aparat memberikan kepastian hukum serta solusi agar dapat kembali bekerja secara legal.
“Kami tidak minta bekerja tanpa aturan. Kami hanya ingin ada solusi supaya bisa bekerja sesuai ketentuan. Kalau tidak bekerja, dari mana kami mendapatkan penghasilan untuk keluarga?” katanya.
Selai itu, dalam tuntutannya juga meminta dalam Penertiban Tidak Tebang Pilih selain tuntutan persoalan mata pencaharian, massa turut mempersoalkan pola penertiban aktivitas pertambangan pasir di Banyuwangi yang dilakukan oleh Kepolisian.
Mereka meminta aparat tidak hanya melihat persoalan dari sisi penegakan hukum, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat yang menggantungkan hidup dari aktivitas pertambangan dan jasa angkutan pasir.
Salah satu spanduk yang dibentangkan massa bertuliskan, “Polisi jangan memakai kacamata kuda, hanya melihat satu sisi.”
Pesan tersebut menjadi bentuk kritik massa agar penanganan persoalan tambang dilakukan secara objektif, transparan, dan tidak tebang pilih.
Para sopir berharap aspirasi mereka segera ditindaklanjuti melalui dialog antara kepolisian, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Mereka meminta solusi yang memberikan kepastian hukum sekaligus kepastian pekerjaan.
Bagi para sopir, persoalan tambang bukan hanya menyangkut aktivitas usaha, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup ratusan keluarga yang bergantung pada pekerjaan sebagai sopir angkutan pasir.
Mereka berharap pemerintah dan aparat segera mengambil langkah konkret sehingga aktivitas yang memenuhi ketentuan dapat berjalan kembali, sementara pelanggaran tetap ditindak sesuai hukum.
(Tim Redaksi)
